BAB VI-B

ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN (AMDAL)

C. PENYUSUNAN AMDAL

1. Tim penyusun AMDAL

a. Susunan tim

Yang bertanggung jawab dalam penyusunan AMDAL adalah pemrakarsa kegiatan, dalam hal ini pemrakarsa dapat minta bantuan kepada konsultan AMDAL.

Suatu pertanyaan penting perlu dikemukakan yaitu siapa yang dapat menjadi konsultan AMDAL ?

Anggota konsultan AMDAL adalah pakar di bidangnya, tidak perlu yang bersangkuran adalah pemegang sertifikat AMDAL A atau B. Pemegang sertifikat AMDAL A diperlukan apabila yang bersangkutan bertindak sebagai koordinator bidang yang sesuai dengan bidangnya. Pemegang sertifikat AMDAL B diperlukan apablia yang bersangkutan bertindak sebagai koordinator tim penyusun.

selanjutnya bab-vi-b-.doc

 

 

Iklan

BAB VI-A

ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN (AMDAL)

 

Lingkungan di Indonesia

Lingkungan hidup dalam penertian ekologi tidak mengenal batas wilayah negara ataupun wilayah administratif. Akan tetapi kalau lingkungan itu dikaitkan dengan pengelolaannya, maka batas wilayah wewenang pengelolaan tersebut harus jelas.

Lingkungan Hidup Indonesia adalah lingkungan hidup yang ada dalam batas wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Lingkungan hidup Indonesia menurut konsep kewilayahan merupakan suatu pengertian hukum. Dalam pengertian lingkungan hidup Indonesia tidaklah lain daripada Kawasan Nusantara.

Lingkungan hidup Indonesia sebagai suatu ekosistem terdiri dari berbagai daerah, yang masing-masing sebagai subsistem yang meliputi aspek sosial budaya, ekonomi dan fisik, dengan corak ragam yang berbeda antara subsistem yang satu dengan subsistem yang lain dengan dengan daya dukung lingkungan yang berbeda. Pembinaan dan pengembangan yang didasarkan kepada keadaan daya dukung lingkungan akan meningkatkan keselarasan dan keseimbangan subsistem, yang berarti juga ketahanan subsistem.

Garis Besar Haluan Negara (GBHN) dengan jelas menyebutkan bahwa sumberdaya alam dan budaya merupakan modal dasar pembangunan. Sebagai arahan pembangunan jangka panjang, GBHN menyebutkan bahwa : “Bangsa Indonesia menghendaki hubungan selaras antara manusia dengan Tuhan, dan antara manusia dengan lingkungan alam sekitarnya”. Dengan demikian perlu adanya usaha agar hubungan manusia Indonesia dengan lingkungan semakin serasi. Sebagai modal dasar, sumberdaya alam harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, oleh karena itu harus selalu diupayakan agar kerusakan lingkungan sekecil mungkin. Hal ini dapat terjadi apabila analisis mengenai dampak lingkungan diterapkan pada setiap kegiatan yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan.

Perhatian terhadap masalah lingkungan hidup di Indonesia diawali oleh seminar tentang “Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Pembangunan Nasional” yang diselenggarakan oleh Universitas Padjajaran di Bandung pada tahun 1972. Para Sarjana dan ahli Indonesia sudah lama mengikuti perkembangan masalah lingkungan, namun Pemerintah Indonesia baru mengenal masalah lingkungan secara resmi sejak mengikuti sidang khusus PBB tentang lingkungan hidup di Stockholm 5 Juni 1972.

Selengkapnya bab-vi-a-.doc

BAB V

GLOBALISASI DAN ISU LINGKUNGAN

John Naisbitt dan Patricia Aburdene (1990) pernah memprediksikan lahirnya “globalisasi”. Kedua orang ini membayangkan globalisasi debagai keadaan di milenium baru yang “lain” daripada milenium sebelumnya (it will be a decade like none that has come before because it will culminate in the milenium, the year 2000). Indikasi bagi akan adanya globalisasi itu antara lain ditandai dengan bom ekonomi global tahun 1990-an, sosialisme pasar bebas, “gaya hidup global” dan tidak ketinggalan pula persoalan lingkungan hidup dunia.

Awal mulai ramainya diskursus tentang globalisasi memang berkaitan dengan ekonomi global dan juga politik, terutama soal “hilangnya” batas dunia yang menyebabkan politik tidak lagi terpasung pada nation state saja. Tapi sekarang sebagaimana dikatakan Anthony Giddins dalam The Third Way-nya (1999:35) bahwa globalisasi bukan hanya, atau bahkan terutama tentang saling ketergantungan ekonomi, tetapi tentang transformasi waktu dan ruang dalam kehidupan kita yang tanpa sekat.

Dari transformasi itu lalu tercipta struktur-struktur global untuk banyak aspek kehidupan, mulai dari soal makanan, pakaian, lingkungan hidup, bahasa sampai kepada teknologi informasi dan komunikasi serba canggih (globalisierung derKultur, KAAD, 1995:11). Pada arus demokrasi sosial dan kultural orang menenun identitas dan entitas nasional dan lokal serta individualisme gaya baru, yang sekaligus bersifat atau menjadi global. Maka tidak mengherankan bila perjumpaan kultural yang menembus ruang dan waktu ini melahirkan apa yang oleh Samuel P. Huntington (2002: dst) disebut sebagai The Clash of Civilization (benturan peradaban). Hakekatnya ialah soal pengetahuan kognitif, pemahaman dan peng-emban-an nilai secara berbeda dalam struktur modern global itu.

Itu juga terjadi dalam bidang lingkungan hidup. Maunya tercipta semacam “pandangan global tentang lingkungan” (ecocultur), namun itu sering bertabrakan dengan kepentingan sempit lokal yang juga merupakan unsur globalisasi (A. Giddens, 1999:37). Artinya wilayah lokal atau batasan nasional itu sama sekali tidak dihilangkan, melainkan tetap menjadi identitas. Kepentingan sempit lokal (juga nasional) seolah dapat menjadi kultur baru dalam batasan suatu negara bangsa (nation state) yang karena klaim globalisasi bukannya semakin menyempit melainkan meluas (mau menjadi global ?).

More bab-v-globalisasi & isu lingkungan.doc

BAB V

 

GLOBALISASI DAN ISU LINGKUNGAN

 globe.jpg

John Naisbitt dan Patricia Aburdene (1990) pernah memprediksikan lahirnya “globalisasi”. Kedua orang ini membayangkan globalisasi debagai keadaan di milenium baru yang “lain” daripada milenium sebelumnya (it will be a decade like none that has come before because it will culminate in the milenium, the year 2000). Indikasi bagi akan adanya globalisasi itu antara lain ditandai dengan bom ekonomi global tahun 1990-an, sosialisme pasar bebas, “gaya hidup global” dan tidak ketinggalan pula persoalan lingkungan hidup dunia.

Awal mulai ramainya diskursus tentang globalisasi memang berkaitan dengan ekonomi global dan juga politik, terutama soal “hilangnya” batas dunia yang menyebabkan politik tidak lagi terpasung pada nation state saja. Tapi sekarang sebagaimana dikatakan Anthony Giddins dalam The Third Way-nya (1999:35) bahwa globalisasi bukan hanya, atau bahkan terutama tentang saling ketergantungan ekonomi, tetapi tentang transformasi waktu dan ruang dalam kehidupan kita yang tanpa sekat. Baca lebih lanjut

Manusia dan pengetahuan

Manusia dan fungsinya

Manusia diciptakan untuk menguasai alam sebab itu manusia juga diciptakan dengan kemampuan dan kecenderungan untuk mencari tahu sifat alam. Setiap kegiatan yang menghasilkan penemuan baru selalu mengasyikan manusia. Hal ini menunjukkan bahwa manusia diciptakan untuk menguasai alam ini. Sebenarnya binatangpun diciptakan untuk menguasai lingkungannya untuk kelangsungan hidupnya . Sebab itu kegiatan binatang juga selalu mencari tahu akan hal disekitarnya.

Inilah salah satu perbedaan antara manusia dengan binatang. ( lingkup tugasnya). Manusia menjadi mitra Tuhan untuk mengatur dan menguasai Alam, binatang hanya hidup didalam lingkungan hidupnya.

Permainan anak – anak sampai dewasa adalah kegiatan belajar. Adalah salah bila orang tua melarang anak bermain untuk hanya “belajar pelajaran sekolah “. Pada hakekatnya proses belajar ini tidak hanya terjadi pada bangku sekolah atau pada saat anak – anak, tetapi seumur hidup. Baca lebih lanjut